<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ummullatifah Azh-Zhahra &#187; ibu</title>
	<atom:link href="http://www.zhahra.web.id/tag/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.zhahra.web.id</link>
	<description>Belajar Dari Kesalahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Aug 2009 03:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cinta Seorang Ibu</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 08:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.</p>
<p>Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”<span id="more-53"></span></p>
<p>Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.</p>
<p>Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.</p>
<p>Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”</p>
<p>Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.</p>
<p>Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.</p>
<p>Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.</p>
<p>Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.</p>
<p>Tahukah anda apa yang terjadi?</p>
<p>Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.</p>
<p>Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.</p>
<p>Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita. Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun.</p>
<p>There is a story living in us that speaks of our place in the world.It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves.</p>
<p>Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan<br />
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi<br />
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan<br />
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan<br />
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan<br />
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan<br />
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati<br />
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti<br />
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan</p>
<p>Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu, Mengapa Engkau Menangis</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 06:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[menangis]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/ibu-mengapa-engkau-menangis/</guid>
		<description><![CDATA[ Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu. mengapa Ibu menangis?. Ibunya menjawab. &#8220;Sebab. Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221;
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/ibumenangis.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 8px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Ibu, Mengapa Engkau Menangis" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/ibumenangis-thumb.jpg" border="0" alt="Ibu, Mengapa Engkau Menangis" width="260" height="180" align="left" /></a> Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu. mengapa Ibu menangis?. Ibunya menjawab. &#8220;Sebab. Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi.</p>
<p>Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221;</p>
<p><span id="more-9"></span>Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?&#8217; Sang ayah menjawab, &#8220;Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan&#8221;. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.</p>
<p>Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.&#8221;Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?&#8221; Dalam mimpinya. Tuhan menjawab, &#8220;Saat Kuciptakan wanita. Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.</p>
<p>Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.</p>
<p>Pada wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih saying, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.</p>
<p>Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?</p>
<p>Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau. seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.</p>
<p>Dan, akhirnya. Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan&#8221;.</p>
<p>Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
