<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ummullatifah Azh-Zhahra &#187; Zhahra</title>
	<atom:link href="http://www.zhahra.web.id/author/Zhahra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.zhahra.web.id</link>
	<description>Belajar Dari Kesalahan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Aug 2009 03:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pak Tua dan Karung Goni</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/pak-tua-dan-karung-goni/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/pak-tua-dan-karung-goni/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 03:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[goni]]></category>
		<category><![CDATA[karung]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[lain]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[orang]]></category>
		<category><![CDATA[pak]]></category>
		<category><![CDATA[terima]]></category>
		<category><![CDATA[tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/renungan/pak-tua-dan-karung-goni/</guid>
		<description><![CDATA[ Seorang ayah tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, “Buku Harian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/08/hargai.gif"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 8px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="hargai" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/08/hargai_thumb.gif" border="0" alt="hargai" width="274" height="219" align="left" /></a> Seorang ayah tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di Beijing, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, “Buku Harian Sang Pramugari” ini dengan cepat telah membuat puluhan ribu Netter terharu…</p>
<p align="justify">Saya adalah seorang pramugari biasa dari Eastern Airlines, karena masa kerja saya belum lama, jadi belum menjumpai masalah besar yang tidak bisa dilupakan, setiap hari terlewati dengan hal-hal kecil yaitu menuangkan air dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan dalam bekerja, sangatlah hambar.</p>
<p align="justify">
<p><span id="more-121"></span></p>
<p align="justify">Tapi hari ini, tanggal 7 Juni, saya telah menjumpai suatu kejadian yang merubah pemikiran saya terhadap pekerjaan dan pandangan hidup. Hari ini kami melakukan penerbangan dari Shanghai ke Beijing, penumpang saat itu sangat banyak, satu unit pesawat terisi penuh.</p>
<p align="justify">Di antara rombongan orang yang naik pesawat ada seorang paman tua dari desa yang tidak menarik perhatian, dia membopong satu karung goni besar di punggungnya, dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan.</p>
<p align="justify">Saat itu saya sedang berada di depan pintu pesawat untuk menyambut para tamu, pikiran pertama yang menghampiri saya saat itu adalah masyarakat sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan seorang paman tua dari desa pun memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh royal.</p>
<p align="justify">Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, kami mulai menuangkan air, hingga tiba di baris kursi ke 20-an, terlihat paman tua tersebut, dia duduk dengan sangat hati-hati, tegak tidak bergerak sama sekali, karung goninya juga tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si paman tua itu menggendong karung goni besar sekilas seperti rak penyangga bola dunia (globe), tegak seperti patung.</p>
<p align="justify">Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa kami biarkan dia menggendong karung tersebut.</p>
<p align="justify">Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, kami mendapatkan bahwa dia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau.</p>
<p align="justify">Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam pesawat.</p>
<p align="justify">Kami memberitahu dia tidak ada masalah dan menyuruh seorang pramugara mengantarkannya ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, kami mendapati dirinya sedang mengamati penumpang lain minum air sambil terus menerus menjilat-jilat bibirnya sendiri, karenanya kami lantas menuangkan secangkir teh hangat dan kami letakkan di atas mejanya tanpa bertanya kepadanya.</p>
<p align="justify">Siapa sangka tindakan kami ini membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, kami pun berkata kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian dia melakukan tindakan yang jauh lebih mengejutkan lagi, buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya berupa uang koin satu sen-an, dan disodorkan kepada kami.</p>
<p align="justify">Kami mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis, dia tidak percaya. Dia sepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh kebencian.</p>
<p align="justify">Akhirnya kami baru mengetahui ternyata demi menghemat uang, sepanjang perjalanannya ia sebisa mungkin tidak naik kendaraan dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik taksi ke bandara, bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis.</p>
<p align="justify">Kami menasihatinya selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya dia mau mempercayai kami, duduk, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Kami menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan nasi, dia masih tetap saja mengatakan tidak mau.</p>
<p align="justify">Dia bercerita bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 6, sedangkan si sulung telah bekerja.</p>
<p align="justify">Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah. Karena anak sulung sudah bekerja bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya di kota, akan tetapi kedua orang tuanya tidak terbiasa, mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya lalu kembali lagi ke desa.<br />
Kali ini karena anak sulungnya tidak ingin sang ayah susah payah naik angkutan, maka dibelikanlah tiket pesawat khusus bagi ayahnya dan bermaksud menemani ayahnya untuk berangkat bersama dengan pesawat karena sang ayah tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya, ia sangat khawatir ayahnya tidak mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya mati-matian tidak mau naik pesawat karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu pemborosan.</p>
<p align="justify">Akhirnya setelah bisa dinasihati sang ayah tetap bersikukuh untuk berangkat sendirian, tidak mau anaknya memboroskan uang untuk membeli selembar tiket lagi.</p>
<p align="justify">Dia membopong sekarung ketela merah kering yang diberikan pada anak bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi. Kami memberitahu dia bahwa barang bawaannya aman jika disimpan disitu, dia berdiri dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati.</p>
<p align="justify">Selama dalam perjalanan di pesawat kami sangat rajin menuangkan air minum untuknya, dan dia selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan. Walaupun kami tahu perut si paman tua sudah sangat lapar. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.</p>
<p align="justify">Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya. Kami semua sangat terkejut.</p>
<p align="justify">Bagi kami nasi yang kami lihat setiap hari ini, ternyata begitu berharganya bagi seorang kakek tua yang datang dari desa ini.</p>
<p align="justify">Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi anaknya. Oleh karena itu, seluruh makanan yang sisa yang tidak terbagikan kami bungkus semuanya untuk diberikan kepadanya agar dibawa. Lagi-lagi dia menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kami kembali dibuat terharu oleh paman tua ini.</p>
<p align="justify">Meskipun bukan suatu hal yang besar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu pelajaran yang sangat mendalam.</p>
<p align="justify">Tadinya saya berpikir bahwa kejadian ini sudah selesai sampai disini saja, siapa tahu setelah para tamu lainnya sudah turun dari pesawat, tinggallah paman tua itu seorang diri, kami membantunya membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar, saat kami akan membantunya menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, mendadak paman tua itu melakukan suatu tindakan yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup: dia berlutut di atas tanah, lalu dengan air mata berlinang dia bersujud kepada kami dan mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan mendapatkan balasan yang baik”.</p>
<p align="justify">Sambil tetap berlutut, sambil berkata seperti itu, sambil menangis, kami semua buru-buru memapahnya untuk berdiri, sambil tiada hentinya menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang penjaga yang bertugas untuk membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat untuk melanjutkan pekerjaan kami.</p>
<p align="justify">Terus terang saja, selama 5 tahun saya bekerja, di dalam pesawat saya telah menemui berbagai macam penumpang, ada yang tidak beradab, ada yang main pukul, juga ada yang berbuat onar tanpa alas an, tapi kami tidak pernah menjumpai orang yang berlutut kepada kami, terus terang kami juga tidak melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya menuangkan air agak sering untuk beliau, hal ini telah membuat seseorang yang telah berumur 70 tahun lebih berlutut untuk berterima kasih kepada kami, lagi pula melihat dia memanggul satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela tidak makan dan menahan lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan di pesawat, juga tidak mau menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan menjadi miliknya, tidak serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat mendalam, lain kali saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas budi orang lain.</p>
<p align="justify">Adalah paman tua ini yang telah mengajarkan kepada saya, bagaimana saya harus hidup dengan penuh kebajikan dan kejujuran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/pak-tua-dan-karung-goni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahitnya Obat</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/renungan/pahitnya-obat/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/renungan/pahitnya-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 02:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hamil]]></category>
		<category><![CDATA[lemak]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pahit]]></category>
		<category><![CDATA[tabib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/renungan/pahitnya-obat/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang raja memiliki istri yang sangat ia cintai. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.    &#34;Panggillah ia kemari,&#34; titah sang raja.     Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang raja memiliki istri yang sangat ia cintai. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.    <br />&quot;Panggillah ia kemari,&quot; titah sang raja.     <br />Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke hadapan raja. </p>
<p>&quot;Jika kalian ingin aku mengobatinya, maka biarkanlah aku berdua dengan sang permaisuri, tutuplah dengan hijab,&quot; kata sang tabib.Mereka kemudian meninggalkan kedua orang itu. </p>
<p>&quot;Setelah kuamati bukuku, ternyata ajalmu telah dekat. Sisa umurmu tak cukup untuk mengandung dan melahirkan. Umurmu hanya tinggal 40 hari lagi,&quot; kata sang tabib kepada permaisuri raja.Setelah merasa cukup berbicara dengannya, sang tabib kemudian mohon    <br />diri. </p>
<p>Sejak pertemuannya dengan sang tabib, nafsu makan permaisuri sangat berkurang. Makan siang dihidangkan, namun ia tidak memakannya. Makan malam disiapkan, ia juga tidak menyentuhnya.Raja khawatir dengan keadaan istrinya. </p>
<p>&quot;Apa yang terjadi denganmu?&quot; tanya raja.    <br />&quot;Orang bijak itu mengatakan bahwa umurku tinggal 40 hari,&quot; jelas istrinya.Permaisuri lalu menceritakan semua yang dikatakan oleh sang tabib. </p>
<p>Semakin hari tubuh sang permaisuri semakin kurus. Empat puluh hari lewat sudah, tetapi ia tidak mati juga. Raja kemudian mengutus orang untuk mengundang sang tabib.    <br />&quot;Empat puluh hari telah berlalu, namun istriku tetap hidup,&quot; kata raja kepada sang tabib.     <br />&quot;Sesungguhnya aku tidak tahu kapan ajalku tiba, apa lagi ajal orang lain. Namun saat itu, aku tidak menemukan obat yang lebih manjur dari berita yang menakutkannya. Istrimu selalu makan yang nikmat-nikmat sehingga lemak menutup rahimnya. Sekarang temuilah dia dan kumpullah dengannya. Insyaa Allah dia akan hamil.&quot; Tak lama kemudian tersebar berita bahwa permaisuri raja hamil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/renungan/pahitnya-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Keindahan dan Kebahagian</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/menuju-keindahan-dan-kebahagian/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/menuju-keindahan-dan-kebahagian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 13:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[menuju]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/uncategorized/menuju-keindahan-dan-kebahagian/</guid>
		<description><![CDATA[ Ini cerita tentang tokoh asal Timur Tengah, Nasruddin.
Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari jarum itu tak ketemu juga. Tetangganya bertanya, &#8220;Jarumnya jatuh dimana ?&#8221; “Jarumnya jatuh di dalam,&#8221; jawab Nasruddin. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/06/menuju.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 8px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="menuju" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/06/menuju-thumb.jpg" border="0" alt="menuju" width="332" height="232" align="left" /></a> Ini cerita tentang tokoh asal Timur Tengah, Nasruddin.</p>
<p align="justify">Suatu hari, Nasruddin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata dia mencari jarum. Tetangganya yang merasa kasihan, ikut membantunya mencari jarum tersebut. Tetapi selama sejam mereka mencari jarum itu tak ketemu juga. Tetangganya bertanya, &#8220;Jarumnya jatuh dimana ?&#8221; “Jarumnya jatuh di dalam,&#8221; jawab Nasruddin. &#8220;Kalau jarum bisa jatuh di dalam, kenapa mencarinya diluar ?&#8221;tanya tetangganya. Dengan ekspresi tanpa dosa, Nasruddin menjawab, &#8220;Karena di dalam gelap, di luar terang.&#8221;</p>
<p align="justify">
<p style="text-align: justify;">Begitulah, perjalanan kita mencari kebahagiaan dan keindahan. Sering kali kita mencarinya di luar dan tidak mendapat apa-apa. Sedangkan daerah tergelap dalam mencari kebahagiaan dan keindahan, sebenarnya adalah daerah-daerah di dalam diri. Justru letak &#8217;sumur&#8217; kebahagiaan yang tak pernah kering, berada di dalam. Tak perlu juga mencarinya jauh-jauh, karena &#8217;sumur&#8217; itu berada di dalam semua orang.</p>
<p align="justify"><span id="more-107"></span>Sayangnya karena faktor peradaban, keserakahan dan faktor lainnya, banyak orang mencari sumur itu di luar. Ada orang yang mencari bentuk kebahagiaannya dalam kehalusan kulit, jabatan, baju mahal, mobil bagus atau rumah indah. Tetapi kenyataannya, setiap pencarian di luar tersebut akan berujung pada bukan apa-apa. Karena semua itu, tidak akan berlangsung lama. Kulit&#8230;..misalnya, akan keriput karena termakan usia, mobil mewah akan berganti dengan model terbaru, jabatan juga akan hilang karena pensiun. &#8220;Setiap perjalanan mencari kebahagiaan dan keindahan di luar, akan selalu berujung pada bukan apa-apa, leads you nowhere. Setiap kekecewaan hidup yang jauh dari keindahan dan kebahagiaan, berangkat dari mencarinya diluar&#8221;. Untuk mencapai tingkatan kehidupan yang penuh keindahan dan,kebahagiaan seseorang harus melalui 5 (lima) buah &#8216;PINTU&#8217; yang menuju ke tempat tersebut.</p>
<p align="justify">Pintu PERTAMA &#8230;&#8230;.adalah&#8230;&#8230;. STOP COMPARING,&#8230;. START FLOWING.</p>
<p align="justify">&#8220;Stop membanding dengan yang lain. Seorang ayah atau ibu belajar untuk tidak membandingkan anak dengan yang lain. Karena setiap pembandingan akan membuat anak-anak mencari kebahagiaan di luar&#8221; Setiap penderitaan hidup manusia, setiap bentuk ketidakindahan, dimulai dari membandingkan. Contoh&#8230;&#8230;. Michael Jackson, sebagai orang yang sering kali membandingkan dirinya dengan orang lain. &#8220;Uangnya banyak, mampu mengongkosi hobinya untuk operasi plastik. Sehingga orang yang hidup dari satu perbandingan ke perbandingan lain, maka hidupnya kurang lebih sama dengan seorang Michael Jackson. Leads you nowhere,&#8221;  Karena itu, saya mengajak pembaca ke sebuah titik, mengalir ( FLOWING ) menuju ke kehidupan yang paling indah di dunia, yaitu menjadi diri sendiri. Apa yang disebut flowing ini sesungguhnya sederhana saja. Kita akan menemukan yang terbaik dari diri kita, ketika kita mulai belajar menerimanya. Sehingga kepercayaan diri juga dapat muncul. Kepercayaan diri ini berkaitan dengan keyakinan-keyakinan yang kita bangun dari dalam. &#8220;Tidak ada kehidupan yang paling INDAH dengan menjadi diri sendiri.  Itulah keindahan yang sebenar-benarnya !&#8221;</p>
<p align="justify">Pintu KEDUA menuju keindahan dan kebahagiaan adalah memberi. Sebab utama kita berada di bumi ini, kata Gede Prama, adalah  untuk memberi. &#8220;Kalau masih ragu dengan kegiatan memberi, artinya kita harus memberi lebih banyak. Saya melihat ada 3 tangga emas kehidupan.</p>
<blockquote>
<p align="justify">I INTEND GOOD, I DO GOOD &amp; I AM GOOD</p>
</blockquote>
<p align="justify">Saya berniat baik, saya melakukan hal yang baik, kemudian saya menjadi orang baik. Yang baik-baik itu bisa kita lakukan, bila kita konsentrasi pada hal memberi,&#8221;Memberi tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pemberian dapat berbentuk senyum, pelukan, perhatian, dan setiap manusia yang sudah rajin memberi, dia akan memasuki wilayah beauty and happiness&#8230;&#8230;&#8221; Saya sering bertemu dengan orang-orang kaya. Ada yang suka memberi, ada yang pelit. Saya melihat orang yang tidak suka memberi, muka orang itu keringnya minta ampun. Orang yang mukanya kering ini bertanya pada saya, apa rahasia kehidupan yang paling penting yang bisa saya bagi ke saya. Saya bilang : sleep well, eat well,&#8221; Artinya memang, untuk ongkos untuk menjadi bahagia tidak mahal. Hanya saja orang sering kali memperumit hal yang sudah rumit. Kalau kita sederhanakan, sleep well, eat well akan jadi mudah jika diikuti dengan kegiatan memberi. &#8220;Tak perlu khawatir, setiap pemberian itu ada yang mencatat. Jika atasan Anda di kantor tidak mencatat pemberian Anda, ada &#8216;Atasan Tertinggi&#8217; yang mencatatnya. Mirip dengan petani, orang-orang yang suka memberi akan memanen hasil-hasil yang diharapkan,&#8221;</p>
<p align="justify">Cahaya di dalam pintu KETIGA untuk menuju keindahan dan kebahagiaan adalah berawal dari semakin gelap hidup Anda, semakin terang cahaya Anda di dalam. Perhatikanlah bintang di malam hari tampak bercahaya, jika langitnya gelap. Sedangkan, lilin di sebuah ruangan akan bercahaya bagus, jika ruangannya gelap. Artinya, semakin Anda berhadapan dengan masalah dan cobaan dalam hidup, semakin bercahaya Anda dari dalam. &#8220;Jika Anda punya suami/istri/pacar yang keras dan marah-marah, jangan lupa mengucapkan terima kasih pada Tuhan karena suami/istri/pacar yang keras dan marah-marah. Anda punya suami/istri/pacar cerewetnya minta ampun. Ucapkan terima kasih pada Tuhan, karena orang cerewet adalah guru  kehidupan terbaik. Paling tidak dari orang cerewet kita belajar tentang kesabaran&#8230;..Jika Anda punya atasan diktatornya minta ampun, itu sengaja ada yang kirim. Agar Anda belajar tentang kebijaksanaan, &#8220;Orang yang pada akhirnya menemukan keindahan dan kebahagiaan,..biasanya telah lulus dari universitas kesulitan. Semakin banyak kesulitan hidup yang kita hadapi, semakin diri kita bercahaya dari dalam. Mengutip perkataan Jamaluddin Rumi, semuanya dikirim sebagai pembimbing kehidupan dari sebuah tempat yang tidak terbayangkan. &#8220;Tidak hanya orang cantik saja yang berguna, orang jelek juga berguna. Gunanya adalah karena orang jelek, orang cantik terlihat jadi tambah cantik. Jadi semuanya ada gunanya, untuk menghidupkan cahaya-cahaya beauty and happiness,&#8221;</p>
<p align="justify">Pintu ke EMPAT adalah surga yang bukanlah sebuah tempat, melainkan adalah rangkaian sikap. &#8220;Bila Anda melihat hidup penuh dengan kesusahan dan godaan,maka neraka tidak ketemu setelah mati, Neraka sudah ketemu sekarang&#8221;. Sedangkan Anda akan bertemu surga, jika hasil dari rangkaian sikap Anda Benar. Sikap ini dimulai dari berhenti mengkhawatirkan segala sesuatunya, dan coba yakinkan diri bahwa everything will be ALLRIGHT.. Setiap kali kita beribadah, berdoa dan memuja Tuhan, tetapi setiap kali pula kita merasa takut. Padahal ketakutan adalah sebentuk ketidakyakinan terhadap Tuhan. &#8220;Kalau Anda berdoa tapi masih takut, mending jangan berdoa karena tidak yakin. Lebih baik Anda yakin, hidup ini berjalan sempurna, doanya pas-pasan tapi Anda yakin jauh lebih baik,&#8221; kata Gede Prama. &#8220;Segala sesuatunya menjadi baik-baik saja jika Anda mencintai yang kecil,&#8221; sambung konsultan manajemen yang dulu sempat terpikir untuk mengoperasi hidungnya yang besar ini.</p>
<p align="justify">Pintu ke LIMA menuju keindahan dan kebahagiaan yakni tahu diri kita dan kita tahu kehidupan. Ada cerita tentang kumpulan binatang yang hendak bikin sekolah karena mereka tidak mau kalah dengan manusia. Semua binatang mengikuti kursus berlari, berenang dan terbang. Tetapi selusin tahun kemudian, binatang-binatang tersebut merasa lelah sekali. Burung tetap hanya bisa terbang, ikan tetap hanya bisa berenang,dan serigala tetap hanya bisa berlari. Akhirnya mereka sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa mereka harus tahu diri. Ikan mesti tahu diri hanya bisa berenang, burung mesti tahu diri hanya bisa terbang sedangkan serigala harus tahu diri hanya bisa berlari. Sehingga, seperti hewan-hewan tersebut, manusia-manusia yang tidak tahu diri adalah manusia yang tidak pernah ketemu keindahan dan kebahagiaan.</p>
<p align="justify">Ada sebuah kalimat bijak ;</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Sumur kehidupan yang tidak pernah kering berada di dalam. Sumur ini hanya kita temukan dan kita timba airnya kalau kita bisa mengetahui diri kita sendiri,&#8221; Seandainya diri sendiri telah ditemukan, maka artinya kita kemudian mengetahui kehidupan.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/menuju-keindahan-dan-kebahagian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Bijak</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak-2/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 14:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[gandhi]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[mohandas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikan, bukan pada apa yang dapat anda peroleh.    (Mohandas Gandhi)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikan, bukan pada apa yang dapat anda peroleh.    <br />(Mohandas Gandhi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Menabur Dan Menuai</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/hukum-menabur-dan-menuai/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/hukum-menabur-dan-menuai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 14:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[alexander]]></category>
		<category><![CDATA[churchil]]></category>
		<category><![CDATA[fleming]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[menabur]]></category>
		<category><![CDATA[menuai]]></category>
		<category><![CDATA[penisilin]]></category>
		<category><![CDATA[winston]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/motivasi/hukum-menabur-dan-menuai/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pernuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/alexander_fleming.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-97" style="margin-left: 8px; margin-right: 8px;" title="alexander_fleming" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/alexander_fleming.gif" alt="alexander_fleming" width="310" height="223" /></a>Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pernuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di selamatkan. Pernuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya.<span id="more-95"></span></p>
<p>Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah. Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang. Pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut. la berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.</p>
<p>Si pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan si pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi, ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. la memberi beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter.</p>
<p>Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini.<br />
Namanya ALEXANDER FLEMING, yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr Fleming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh !!</p>
<p>Tahukah saudara siapa nama pemuda itu Namanya adalah WINSTON CHURCHIL. PM Inggris yang termasyhur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai Fleming menabur kebaikan. ia menuai kebaikan pula Cita-citanya terkabul. ia menjadi dokter Fleming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churchil. Tidah sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churchil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/hukum-menabur-dan-menuai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Bijak</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 12:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang bodoh bisa mengkritik. menyalahkan dan mengeluh. dan kebanyakan dari mereka melakukan hal itu.   (Lawrence G. Lovasik)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang bodoh bisa mengkritik. menyalahkan dan mengeluh. dan kebanyakan dari mereka melakukan hal itu.   <br />(Lawrence G. Lovasik)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/kata-bijak/kata-bijak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Pernah Menyerah</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/jangan-pernah-menyerah/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/jangan-pernah-menyerah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 12:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[biola]]></category>
		<category><![CDATA[jangan]]></category>
		<category><![CDATA[menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[niccolo]]></category>
		<category><![CDATA[paganini]]></category>
		<category><![CDATA[pernah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/motivasi/jangan-pernah-menyerah/</guid>
		<description><![CDATA[ Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.
Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/paganini.jpg"><img style="border-right-width: 0px; margin: 0px 12px 0px 0px; display: inline; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px" title="paganini" border="0" alt="paganini" align="left" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/paganini-thumb.jpg" width="203" height="232" /></a> Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.</p>
<p align="justify">Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak.&quot;Hebat, hebat&quot;.</p>
<div align="justify"><span id="more-81"></span></div>
<p align="justify">Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Dengan mata berbinar dia berteriak. &quot;Peganini dengan satu senar&quot; Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.</p>
<p align="justify">Motivasi: </p>
<p align="justify">Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.</p>
<p align="justify">Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu dengan indahnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/jangan-pernah-menyerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Seorang Ibu</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 08:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.</p>
<p>Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”<span id="more-53"></span></p>
<p>Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.</p>
<p>Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.</p>
<p>Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”</p>
<p>Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.</p>
<p>Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.</p>
<p>Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.</p>
<p>Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.</p>
<p>Tahukah anda apa yang terjadi?</p>
<p>Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.</p>
<p>Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.</p>
<p>Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita. Agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang t ida k bisa dinilai dengan apapun.</p>
<p>There is a story living in us that speaks of our place in the world.It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves.</p>
<p>Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan<br />
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi<br />
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan<br />
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan<br />
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan<br />
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan<br />
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati<br />
Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti<br />
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan</p>
<p>Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/renungan/cinta-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagian Terpenting Tubuh</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/bagian-penting-tumbuhmu/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/bagian-penting-tumbuhmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 06:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bagian]]></category>
		<category><![CDATA[bahu]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/bagian-penting-tumbuhmu/</guid>
		<description><![CDATA[ Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia. Tapi ternyata bukan. di lain waktu aku jawab.
“Telinga. Bu” Tapi. ternyata itu bukan jawabannya.
“Bukan itu. Nak. Banyak orang yang tuli. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/smilegirl2.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="smilegirl2" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/smilegirl2-thumb.jpg" border="0" alt="smilegirl2" width="162" height="197" align="left" /></a> Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia. Tapi ternyata bukan. di lain waktu aku jawab.</p>
<p>“Telinga. Bu” Tapi. ternyata itu bukan jawabannya.</p>
<p>“Bukan itu. Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti.”</p>
<p><span id="more-39"></span>Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama. kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi. kali ini aku memberitahukannya. “Bu. penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita.”</p>
<p>Dia memandangku dan berkata “Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta.”</p>
<p>Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun. Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu. “Bukan. Tapi. kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku.”</p>
<p>Akhirnya tahun lalu. kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.</p>
<p>Dia bertanya padaku. “Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?”</p>
<p>Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.</p>
<p>Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, “Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar “hidup”. Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu. aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi. hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting.”</p>
<p>Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air, Dia berkata. “Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu.” Aku bertanya “Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?’</p>
<p>Ibu membalas, “Bukan. tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap. kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya.”</p>
<p>Akhirnya. aku tahu. bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/bagian-penting-tumbuhmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu, Mengapa Engkau Menangis</title>
		<link>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/</link>
		<comments>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 06:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zhahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[menangis]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zhahra.web.id/ibu-mengapa-engkau-menangis/</guid>
		<description><![CDATA[ Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu. mengapa Ibu menangis?. Ibunya menjawab. &#8220;Sebab. Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221;
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/ibumenangis.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 8px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="Ibu, Mengapa Engkau Menangis" src="http://www.zhahra.web.id/wp-content/uploads/2009/05/ibumenangis-thumb.jpg" border="0" alt="Ibu, Mengapa Engkau Menangis" width="260" height="180" align="left" /></a> Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu. mengapa Ibu menangis?. Ibunya menjawab. &#8220;Sebab. Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi.</p>
<p>Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221;</p>
<p><span id="more-9"></span>Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?&#8217; Sang ayah menjawab, &#8220;Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan&#8221;. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.</p>
<p>Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.&#8221;Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?&#8221; Dalam mimpinya. Tuhan menjawab, &#8220;Saat Kuciptakan wanita. Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.</p>
<p>Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.</p>
<p>Pada wanita, kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih saying, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.</p>
<p>Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya. Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?</p>
<p>Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau. seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.</p>
<p>Dan, akhirnya. Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan&#8221;.</p>
<p>Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zhahra.web.id/motivasi/ibu-mengapa-engkau-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
